![]() |
| Foto gambar: Kepulangan Siti Nurlaeli |
Dpnews Indonesia || Tanggerang – Isak tangis haru sekaligus pilu mewarnai kedatangan Siti Nurlaeli, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Sabtu awal Maret 2026. Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan, Siti akhirnya kembali ke tanah air dan menghirup udara bebas.
Namun, kepulangan Siti membawa luka mendalam. Di hadapan awak media Dpnews Indonesia, Siti membeberkan kisah tragis yang dialaminya selama bekerja di Syarekah Essad, Arab Saudi. Diduga diberangkatkan secara ilegal, Siti mengaku terjebak dalam kondisi kerja yang tidak manusiawi dan jauh dari standar kesejahteraan.
Kesaksian Pahit di Syarekah Essad
Selama tiga bulan terakhir, Siti mengaku ditelantarkan oleh pihak perusahaan. Ia harus bertahan hidup tanpa jatah makan dan tetap dipaksa bekerja meski dalam kondisi kesehatan yang menurun drastis.
"Saya betul-betul tidak dipedulikan pihak Syarekah. Selama tiga bulan saya tidak pernah mendapat jatah makan. Dalam kondisi sakit pun saya terus ditekan untuk bekerja, sementara untuk berobat saya harus membayar sendiri. Saya benar-benar kapok dan trauma," ungkap Siti dengan suara bergetar menahan sakit.
Suami Korban Tuntut Keadilan
Ahmad Sulki, suami Siti yang menjemput langsung di bandara, tidak bisa menyembunyikan kemarahannya atas perlakuan yang menimpa istrinya. Ia menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk mencari keadilan.
Target utamanya adalah Hj. Ramlah, oknum perekrut (sponsor) yang memproses keberangkatan Siti. Menurut Ahmad, sosok tersebut menghilang tanpa jejak atau "bak ditelan bumi" sesaat setelah masalah yang menimpa Siti mencuat ke permukaan.
Alarm Darurat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)
Kasus yang menimpa Siti Nurlaeli ini kembali menjadi pengingat keras akan tingginya risiko eksploitasi terhadap PMI, khususnya di wilayah Arab Saudi. Fenomena ini menambah panjang daftar dugaan praktik perbudakan modern yang menyasar warga negara yang mencari nafkah di luar negeri.
Siti hanyalah puncak gunung es dari persoalan besar perlindungan pekerja migran. Di luar sana, diduga masih terdapat ratusan bahkan ribuan "Siti" lainnya yang membutuhkan perhatian serius dan uluran tangan pemerintah agar terlepas dari cengkeraman sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Pihak keluarga kini berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan, tidak hanya untuk memulihkan kesehatan Siti, tetapi juga memberantas jaringan mafia penyalur tenaga kerja ilegal yang terus memangsa warga tidak berdaya.
